Apa sebenarnya makna dari merdeka, kebanyakan orang mengartikan merdeka dengan bebas atau kebebasan. Namun maksud dari bebas itu apa, bebas dari penjajahan, atau bebas dari kebodohan, kemiskinan dan penindasan, kedua maksud itu mungkin saja benar itulah yang memang kita harapkan. Sudah tujuh puluh tahun sejak Bung Karno memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, dan sejak saat itu pula banyak hal yang terjadi dinegri kita tercinta ini, dan sejak saat itu pula perjuangan baru bangsa ini dimulai, tapi apakah kita telah benar-benar mendapatkan kemerdekaan yang sesungguhnya itu masih menjadi suatu pertanyaan. Kemerdekaan yang ktia rasakan pada hari ini merupakan suatu anugrah yang disia-siakan oleh begitu banyak orang dinegri ini, sebuah kenyataan pahit yang entah kenapa merupakan sesuatu yang mau tak mau harus kita terima. Bepuluh-puluh atau bahkan berates-ratus tahun yang lalu tak terhingga banyaknya manusia yang telah menjadi korban ataupun mengorbankan diri mereka untuk mengemumandangkan kemerdekaan, dan seaindainya kemudian mereka hidup kembali dan berjumpa dengan kita yang ada dimasa kini, apakah yang akan mereka katakana, kata-kata mutiara kah atau umpatan-umpatan penuh kekecewaan. Mungkin kita merupakan rakyat dari suatu Negara yang tak pernah bersyukur atas anugrah yang kita terima, mungkin Negara kita belum sepenuhnya merdeka dari kebodohan, kemiskinan, korupsi, dan segala macam halnya. Akan tetapi kita harus tetap bersyukur setidaknya Negara tidak seperti Palestina yang mungkin setiap hari dibombardir dan dihujani oleh peluru, tidak pula seperti Yunani dengan perekonomiannya yang bangkrut. Apabila kita bertanya pada diri kita sendiri, seperti apakah sesungguhnya kemerdekaan yang kita harapkan, mungkin itulah sesungguhnya kemerdekaan yang kita maksudkan, kemerdekaan yang seharusnya dicapai oleh negri ini. Namun apakah hal itu adalah sesuatu yang mungkin, itu merupakan suatu hal yang sulit untuk diungkap. Mungkin sebagian orang menganggap cukup bahwa kemerdekaan adalah bebas dari penjajahan, mungkin sebagian lagi berharap bahwa kemerdekaan yang sesungguhnya adalah dimana rakyatnya merasakan kesejahteraan yang merata. Tapi apakah kesejahteraan itu, apakah kesejahteraan dapat dicapai ketika setiap rakyat mengendarai mobil mewah berlapis emas, apakah kesejahteraan dicapai ketika semua rakyat memilki rumah besar bagai istana, ataukah kesejahteraan didapatkan ketika setiap orang memiliki tabungan berlimpah direkening-rekening mereka, jika memang kesejahtearan seperti itulah yang dicita-citakan oleh bangsa ini, hal tersebut merupakan lelucon yang sangat tidak lucu. Membebaskan negri ini dari kemiskinan bukanlah perkara mudah, mungkin banyak orang yang mengkritik pemerintah atas kesalahan-kesalahan yang dilakukannya, tapi apakah orang yang mengeritik itu tahu betapa sulitnya mensejahterakan 250 juta penduduk negri yang tersebar dari Sabang sampai dengan Merauke. Apabila kita pikirkan kembali, kemiskinan merupakan suatu kosekuensi, ya suatu kosekuensi dari takdir krena terlahir dalam keluarga dan lingkungan yang miskin, suatu kosekuensi karena tidak mau bekerja lebih keras dan lebih cerdas, sebuah kosekuensi karena tidak mau mengambil kesempatan, dan sebuah kosekuensi karena keadaan yang tidak memungkinkan. Namun apakah hal itu adalah sebuah halangan bagi manusia untuk sejahtera, apakah itu adalah merupakan alasan kenapa rakyat miskin, mungkin itu benar tapi apakah kita tak melupakan sesuatu yang penting. Manusia memiliki kehendak untuk mengubah keadaan dirinya, bukankah manusia dilahirkan dengan memiliki akal dan rasa, sebuah anugrah terbesar yang diberikan oleh Tuhan kepada umat manusia, anugrah yang tak terilai harganya. Mungkin salah satu hal terburuk yang dimiliki oleh masyarakat negri ini terlalu kritis terhadap pemerintahannya, itu mungkin hal yang positif disatu sisi akan tetapi apakah hal itu merupakan sesuatu yang benar. Dalam hal politik sendiri sulit mengatakan ada hal yang benar atau buruk, karena semuanya merupakan abu-abu, benar atau salah semua nya dilihat dari perspektif yang berbeda-beda. Terkadang masyakat terlalu membesar-besarkan kesalahan yang dilakukan oleh pemimpin atau pemerintah, namun begitu mereka yang duduk dipemerintahan pun pada dasarnya adalah manusia dan wajar bila mereka melakukan kesalahan. Maka dari itu kritiklah mereka dengan cara yang bijak, berikan mereka solusi yang membangun. Namun begitu tak dipungkiri bahwa sebagian oknum justru melakukan kesalahan dengan sengaja demi kepentingan mereka sendiri maupaun segelintir orang, mereka melakukan dosa yang sangat besar yaitu mencederai kepercayaan masyarakat dan tanggung jawab mereka, maka hal tersebut merupakan sesuatu yang mungkin tak bisa dimaafkan. Kembali pada hal kemerdekaan, kemerdekaan seperti apa yang kita inginkan, hal apa yang kita harapkan dari sebuah negri yang terbentang dari Sabang sampai Merauke ini. Mungkin tak banyak hal yang bisa kita harapkan dari nya, tanah tak lebih dari tempat manusia hidup dan menjejakan kaki, begitu pun dengan sumber daya yang ada didalamnya tak lebih dari benda. Namun apakah hal yang terpenting dari sebuah Negara dan sebuah negri, jawabannya bukan sumber daya yang melimpah, bukan pula wilayah yang luas, mungkin kedua hal tersebut merupakan hal yang penting, tapi bukan merupakan yang terpeting. Hal yang paling penting dari sebuah negri adalah Manusianya. Sumber daya yang melimpah tanpa kualitas sumber daya manusia yang memadai takan mampu dikelola dengan baik, ia takan memberikan hasil yang maksimal, sumber daya itu mungkin akan memberikan dollar yang cukup melimpah, namun begitu bila kita dapat memanfaatkan nya dengan lebih baik bukankah hal itu akan memberikan manfaat yang lebih baik. Dengan sumber daya manusia yang lebih baik, maka bangsa dan negri ini pun akan lebih baik, karena walaubagaimanapun penggerak suatu negri adalah manusianya itu sendiri, dan mungkin inilah yang harus menjadi prioritas dari pemerintah negri ini. Ekonomi yang tangguh tidak akan ada tanpa masyarakat yang tangguh, masyarakat yang cerdas dan berakhlak akan menjadikan negri ini sebagai suatu negri yang akan menjadi cahaya dan mercusuar bagi dunia. Dan setelah tujuh puluh tahun sejak Bung Karno mengumandangkan proklamasi, harapan akan tanah air ini menjadi lebih baik masih ada dihati rakyatnya. Walaupun semangat kemerdekaan itu semakin lama terasa semakin padam, tapi harapan agar negri dari bangsa ini menjadi lebih baik tetaplah ada. Tapi apakah harapan itu akan terkabul ataupun tidak, kita tak pernah tahu. Namun begitu untuk saat ini hal terbaik yang bisa dilakukan adalah memanfaatkan dan menikmati kemerdekaan yang kita rasakan, karena kita tak tahu apa yang akan terjadi dengan negri ini dimasa depan nanti, dan hal yang penitng pula adalah dengan melindunginya dengan segenap jiwa.